Pengorbanan Kerbau Penyelamat Di Hutan Krendhawahana

Kerbau atau mahesa memiliki arti tak hanya sebagai seekor hewan dalam filosofi Jawa. Kerbau bisa juga diartikan sebagai sosok pelindung, penyelamat dari mara bahaya yang memungkinkan terhadap manusia. Hal ini bisa kita saksikan dalam sebuah ritual adat Jawa yang berlangsung rutin tiap tahunnya di Keraton Kasunanan Surakarta.

Mahesa Lawung (Kerbau Penyelamat) begitulah ritual adat ini bernama. Ritual adat ini sudah berlangsung sejak dari raja-raja terdahulu jauh sebelum Kerajaan Mataram berkuasa yaitu dari jaman kerajaan Hindu Buddha hanya saja mereka memiliki nama yang berbeda untuk ritual ini.

Mahesa Lawung sempat terhenti ketika kerajaan Islam berkuasa di Tanah Jawa, yaitu pada masa Kerajaan Demak berkuasa menggeser kerajaan-kerajaan Hindu Buddha. Ritual yang rutin digelar tiap tahun ini dilaksanakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta untuk memohon keselamatan agar keraton dan seisinya bahkan negara terhindar dari mara bahaya.

Tumbal Kepala Kerbau Upacara Adat Mahesa Lawung

Waktu yang dipilih untuk menggelar ritual adalah tepat 40 hari sesudah Grebeg Maulud Nabi di laksanakan di Keraton Surakarta. Sedangan untuk harinya biasa jatuh antara hari Senin atau Kamis. Sedangkan tempat pelaksanaannya adalah di Hutan Krendhawahana, Gondangrejo, Karanganyar.

Nama Mahesa Lawung berasal dari sesajen yang digunakan dalam ritual adat ini yang berupa kepala kerbau, jerohan, serta empat kakinya. Ketiga bentuk sesaji mentah ini nantinya akan berakhir dalam sebuah lubang galian dalam ritual. Dan kerbau yang dipergunakan sebagai sesajen pun bukanlah kerbau sembarangan, haruslah yang masih perjaka atau belum pernah dipekerjakan yang boleh dikorbankan.

Prosesi Adat Ritual Mahesa Lawung

Seluruh keperluan Mahesa Lawung biasanya disiapkan dari dalam dapur Keraton Surakarta. Dari dalam sini biasanya persiapan berupa sesajian sego gurih, gudangan, jajan pasar, dan lain-lainnya diolah. Sekitar pukul 09.00 sesajian yang sudah dipersiapkan akan dibawa menuju Sitihinggil. Di sana lah nantinya sesajian ini akan terlebih dahulu didoakan bersama dengan kepala kerbau yang sebelumnya telah dipotong di lokasi yang berbeda.

Tiga bahasa yaitu bahasa Jawa, Arab, dan Buddha digunakan untuk mendoakan sesajian serta sesajen yang nantinya akan diusung menuju Hutan Krendhawahana. Hutan atau Alas Krendhawahana terletak kurang lebih 15 kilometer ke arah timur laut Keraton Kasunanan Surakarta atau Kota Solo. Lokasi ini adalah lokasi yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Bathari Kalayuwati atau Bathari Durga, pelindung gaib Keraton Surakarta di bagian utara. Lokasi ini juga dipercaya sebagai tempat perundingan Pangeran Diponegoro dan pihak keraton untuk melawan Belanda pada masa penjajahan.

Seluruh sesajian dan sesajen pada akhirnya akan dibawa menuju alas yang hingga sekarang terkenal angker itu. Kurang lebih pukul 10.00 pagi rombongan dan sesaji akan berangkat meninggalkan keraton menuju Hutan Krendhowahono dengan pengawalan polisi. Sesajian dan sesajen ini nantinya akan diletakan di Punden Bathari Durga yang berada di tengah alas. Sesaji yang berupa barang masak dan sesajen yang berupa barang mentah ini pun memiliki makna tersendiri dalam ritual adat ini. Sesajen yang berupa kepala kerbau, jerohan, dan kaki kerbau diartikan sebagai kebodohan (kepala) dan kekotoran (jerohan).

Karena itu sifat-sifat buruk ini nantinya harus dibuang atau ditinggalkan dari kehidupan manusia dengan cara dikuburkan dalam liang yang sudah digali disekitaran punden. Sementara sesajian matang nantinya akan dibagikan kepada mereka yang hadir di sana. Dalam sesajen ada juga berbagai jenis walang (belalang) yang digunakan sebagai simbol rakyat kecil.

Punden Bathari Durga inilah yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya pelindung gaib keraton, Bathari Kalayuwati. Ritual di atas punden ini diawali dengan seorang abdi dalem yang menceritakan sejarah Sesaji Mahesa Lawung di Hutan Krendhawahana itu. Prosesi kemudian berlanjut pada ritual ujub atau penyampaian maksud dan tujuan yang kemudian akan disambung dengan pembacaan doa serta mantra. Setelah prosesi ini maka kepala kerbau, jerohan, dan kaki kerbau kemudian ditanam pada liang yang dibuat disekitaran punden.

Begitulah kisah pengorbanan Kerbau Penyelamat yang digelar tiap tahunnya oleh Keraton Surakarta di Hutan Krendhawahana, Gondangrejo. Kerbau yang berarti pelindung dipercaya oleh keraton sebagai tumbal yang harus dipersembahkan kepada Bethari Durga. Sebuah ritual adat yang menjadi sebuah tradisi dan berulang tiap tahunnya.

*Ada kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat bahwa bagi mereka yang bisa mendapatkan sesajian dalam ritual Sesaji Mahesa Lawung mak hal yang mereka inginkan kemungkinan besar akan terkabul.

*Dari cerita yang tersebar turun temurun, konon Pangeran Diponegoro pada jaman penjajahan Belanda sering bersembunyi di hutan angker Krendhawahana bersama dengan Pakubuwono VI untuk mengatur strategi perlawanan. Konon dalam setiap pencarian Belanda tak pernah menemukan mereka dan mereka juga tak pernah kembali dengan selamat.

*Beredar kabar juga bahwa Presiden pertama dan kedua kita pernah menggunakan lokasi ini untuk menyepi. Selain kedua Presiden tersebut, raja-raja terdahulu juga sering menggunakan lokasi ini untuk menyepi dan mempertajam batin mereka.

Kemungkinan, Mahesa Lawung yang akan digelar pada tahun 2015 jatuh pada hari Senin atau Kamis pada kisaran tanggal 12, 16, atau 19 Februari 2015!

Selain prosesi upacara adat ini, Keraton Kasunanan Surakarta masih memiliki banyak upacara adat lainnya yang pantas sangat menarik untuk dikunjungi. Temukan upacara adat lainnya baik oleh Keraton Surakarta atau warga di sekitar Kota Solo pada tautan berikut ini!

Sponsored Links

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>