Malam pergantian tahun dalam kalender Jawa atau yang lebih sering disebut malam 1 Suro atau 1 Muharram, penanggalan Islam, adalah malam yang penting dan dianggap sakral bagi banyak warga yang hidup dalam pengaruh budaya Jawa. Di malam seperti ini, banyak wilayah di Solo Raya menggelar berbagai jenis ritual atau upacara adat, termasuk juga warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi.
Warga Selo, Boyolali, khususnya Desa Lencoh, sangat akrab dengan tradisi di malam 1 Suro. Di wilayah yang terletak di sebelah utara lereng gunung yang terakhir meletus pada tahun 2010 itu warga mengenal dan masih menjalankan tradisi yang dikenal dengan sebutan Sedekah Gunung.
Upacara yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan bagi warga yang tinggal di sekitar Gunung Merapi ini sudah digelar sejak zaman nenek moyang warga lokal. Dan yang menarik dari digelarnya upacara Sedekah Gunung ini adalah sesaji berupa kepala kerbau yang diikutkan dalam sesaji yang dilarungkan ke kawah di puncak Merapi.
Selain sesaji berupa kepala kerbau, prosesi yang rutin digelar di Joglo Merapi, Desa Lencoh, Boyolali ini biasa dikemas dalam sebuah festival. Di dalam festival atau prosesi itu juga akan ada hiburan berupa pertunjukan tari dan kesenian yang dibawakan oleh sanggar seni atau seniman lokal.
Prosesi upacara malam 1 Suro
Seluruh prosesi Sedekah Gunung Merapi pada malam 1 Suro digelar mulai dari jam 8 malam bertempat di Joglo Merapi, Desa Lencoh. Di area ini, warga yang hadir memeriahkan acara akan dihibur dengan suguhan pembuka berupa pentas tari dan kesenian.
Prosesi pembacaan legenda Sedekah Gunung menjadi agenda kedua setelah sajian pembuka. Begitu selesai dengan pembacaan legenda, prosesi akan dilanjutkan dengan pembacaan doa atas segala sesajian yang sudah disiapkan.
Bersamaan dengan pembacaan doa itu, kidung-kidungan berupa doa juga akan dilantunkan. Sesajian dalam ritual adat ini meliputi berbagai ubo rampe. Selain kepala kerbau yang pokok dan wajib, terdapat juga dalam sesaji itu seperti tumpeng nasi jagung, brubus daun lumbu, gomok, acung-acung, bothok sempuro, palawija, rokok klobot, pisang, kembang kanthil, kunir, telur, serta uang logam seratusan.
Kepala kerbau dan sesaji lainnya pada akhirnya akan dibawa menuju puncak Merapi untuk dilarungkan di kawah gunung yang dipercaya dijaga oleh Kyai Petruk. Sementara sesaji berupa tumpeng nasi jagung pada akhirnya akan menjadi rebutan warga yang hadir di Joglo Merapi.
Waktu penyelenggaraan dan lokasi
Malam 1 Suro pada tahun 2013 ini akan jatuh pada Sabtu, 24 Oktober 2014. Sementara untuk lokasi penyelenggaraan, prosesi ritual adat pergantian tahun ini sering digelar di Joglo Merapi, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali.
Selo berada kurang lebih setengah jam perjalanan dari Boyolali ke arah barat (Muntilan, Magelang) melalui jalur SSB (Solo – Selo – Boyolali). Sementara dari Kota Solo wilayah ini kurang lebih berjarak satu setengah jam perjalanan.
Info nomer penting nomer telepon Kantor Kecamatan Selo, Boyolali, 0276 – 326 001!
Selain ritual malam 1 Suro di lereng Gunung Merapi, warga Solo juga mengenal ritual Mahesa Lawung yang juga menggunakan sesaji berupa kepala kerbau. Dan selain ritual di Desa Lencoh, Boyolali, ini, warga Solo Raya juga sangat mengenal upacara di malam yang sama untuk memperingati pergantian tahun seperti ini. Upacara itu adalah Kirab Malam 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Mangkunegaran.
Temukan berbagai jenis upacara dan ritual adat lainnya di wilayah Boyolali pada tautan berikut ini!

Apik Tenan mas,
ayo di inventarisir tradisi budaya kita, sebelum punah
Ditungggu info lainnya dari belahan nusantara
Mungkin baik juga kalau ada yang mengetahui tradisi mana yang sudah punah