Klaten adalah sebuah kabupaten di antara DI Yogyakarta dan Kota Solo. Kabupaten dengan luas wilayah mencapai 665,56 km² ini memiliki ciri geografis yang cukup beragam dan terhitung komplit, kecuali kawasan laut atau pantai tentunya.
Di bagian barat kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi DIY. Di kawasan itu, Klaten memiliki kekayaan berupa bangunan-bangunan peninggalan bersejarah seperti Candi Prambanan dan juga Candi Sewu. Di bagian utara yang berbatasan dengan Boyolali dan DIY, kabupaten ini memiliki kawasan sejuk karena berada di lereng Gunung Merapi.
Di bagian timur laut yang berbatasan dengan Sukoharjo dan Boyolali kawasan ini memiliki kekayaan alam berupa sumber-sumber air seperti Umbul Ingas atau Cokro. Sementara di bagian selatan hingga barat daya dimana terbentang area perbukitan kabupaten ini berbatasan langsung dengan kawasan Gunung Kidul, DIY.
Potensi alam yang dimiliki Kabupaten Klaten Jawa Tengah ini ternyata juga mendukung terbentuknya berbagai tradisi yang tersebar dalam masyarakat yang hidup didalamnya. Karena itu, bisa dikatakan bahwa selain kaya dengan objek wisata, Klaten juga kaya akan tradisi budaya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa objek wisata Klaten tidak melulu tujuan-tujuan wisata alam dan peninggalan, seperti objek wisata Rowo Jombor atau kompleks Candi Prambanan saja. Banyak juga tradisi budaya berupa upacara adat menjadi keistimewaan yang hanya dimiliki kabupaten yang terbagi dalam tiga wilayah kecamatan ini.
Bahkan, beberapa upacara adat di Kabupaten Klaten bisa dikatakan telah menjadi referensi utama bagi mereka yang ingin mengenal upacara adat Jawa Tengah lebih jauh. Tradisi seperti Yaqowiyu misalnya, tradisi warisan Ki Ageng Gribig ini telah menjelma menjadi upacara adat yang selalu ramai dikunjungi ribuan wisatawan lokal dari berbagai daerah setiap tahunnya.
Informasi tentang upacara adat Klaten bisa dijumpai dengan mudah dengan mencarinya di internet. Blog, website, hingga portal-portal berita yang ada banyak memuat artikel tentang apa, bagaimana, kapan, dimana, dan siapa menyangkut upacara adat Kabupaten Klaten.
Chic:Id.Com disini ingin mencoba lebih detil lagi dengan menyediakan informasi persis kapan dan selanjutnya upacara-upacara adat yang telah menjadi objek unggulan wisata Klaten Jawa Tengah akan digelar. Berikut adalah urutan upacara adat di Kabupaten Klaten yang disusun dengan menggunakan perhitungan Jawa dari awal bulan Suro hingga akhir bulan Besar:
Setiap Jum’at Kliwon atau Jum’at Wage di Bulan Suro, Upacara Bersih Desa Tanjungsari, Dlimas, Ceper
Upacara adat bersih desa Tanjungsari di Dusun Dlimas, Desa Dlimas, terkenal dengan adanya tanggapan Tari Tayub dalam setiap gelarannya. Selain itu tradisi ini juga terkenal karena warga menggelar selamatan berupa kendurian di bawah pohon Tanjung di salah satu sudut desa yang berbatasan dengan Pabrik Gula Ceper itu.
Setiap hari Jum’at di Pertengahan Bulan Sapar, Saparan Yaqowiyu di Jatinom
Upacara adat sebar berton-ton kue apem yang terbuat dari tepung beras ini rutin digelar selepas ibadah salat Jum’at di kompleks Masjid Besar Jatinom. Bulan Sapar adalah bulan penyelenggaraan tradisi unik yang selalu dibajiri ribuan hingga puluhan ribu warga ini. Karena itu, tradisi ini juga sering dinamakan sebagai tradisi Saparan.
Sehari Sebelum Hari Raya Nyepi, Upacara Keagamaan Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan
Tawur Agung yang merupakan upacara penyucian sebelum memasuki Hari Raya Nyepi bagi umat beragama Hindu adalah salah satu upacara keagamaan yang digelar di situs penting Candi Prambanan. Selama upacara keagamaan ini berlangsung, operasional Candi Prambanan biasa tetap terbuka bagi wisatawan.
Karena itu, mengunjungi Candi Prambanan di saat seperti ini pengunjung akan mendapatkan pemandangan peristiwa budaya dan agama secara bersamaan. Karena tidak hanya prosesi ritual keagamaan yang akan digelar di sana, tetapi juga sajian berbagai pertunjukan seni Pulau Dewata biasa dipertunjukan.
Setiap 27 Bulan Ruwah, Tradisi Jodangan Sadranan Sunan Pandanaran di Bayat
Bulan Ruwah bulan menjelang bulan Ramadan atau Pasa menjadi bulan dimana tradisi sadranan digelar. Tradisi berziarah ke makam leluhur ini juga diperingati di kompleks makam ulama besar Sunan Pandanaran di Desa Paseban, Bayat. Prosesi yang juga dikenal dengan Haul Agung ini khas dengan tradisi kirab jodangan berisi nasi kenduri menaiki anak tangga menuju pemakaman dan juga pasang langse atau mengganti kain penutup makam.
Hari Terakhir Bulan Ruwah, Tradisi Padusan di Umbul Ingas Cokro Tulung
Memasuki bulan Ramadan atau Pasa juga khas dengan ritual padusan (mandi) yang sering dilaksanakan dilokasi wisata air. Tradisi padusan yang dipercaya sebagai ritual membersihkan diri menjelang berpuasa juga ramai di Umbul Cokro. Di saat-saat seperti itu, kawasan yang kini dikenal dengan nama OMAC atau objek mata air Cokro itu akan dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Setiap 8 Syawal atau Seminggu Setelah Idul Fitri, Tradisi Grebeg Syawalan Bukit Sidoguro
Bulan Syawal yang khas dikenal sebagai bulan ketupat menjadi waktu pelaksanaan tradisi gunungan ketupat di kawasan wisata Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Bayat. Puluhan hingga ratusan gunungan ketupat tak jarang dibuat khusus untuk meramaikan tradisi ini. Hingga akhirnya ketupat-ketupat itu akan diperebutkan warga dan pengunjung yang hadir.
Tradisi unik berupa kendurian, penyembelihan kambing dan ayam yang kadang berjumlah hingga ratusan ekor di bawah pohon di kawasan Sendang Sinongko rutin digelar warga Pokak setelah mereka melaksanakan panen raya. Tradisi sebagai ucapan syukur ini biasa jatuh di musim kemarau di antara bulan Juli hingga September.


Leave a Reply